Bupati Flotim: Saya dan Pak Wakil Minta Maaf

Warga dua desa yang berkonflik, Lewonara dan Lewobunga, akhirnya menerima Bupati dan Wakil Bupati Flores Timur (Flotim), Yoseph Lagadoni Herin, dan  Valentinus Sama Tukan, di desa mereka secara adat dan budaya setempat, Rabu (24/10/2012).

“Goe (saya) dan Pak Wakil ma’a onak lere-lere leta maaf beribu maaf (dengan hati yang tulus ikhlas (minta maaf, Red). Mungkin kata-kata kame (kami) menyinggung perasaan keluarga besar ini. Sekali lagi saya dan Pak Wakil leta (minta) maaf. Mungkin kami salah mengambil keputusan dalam masalah ini. Kami datang untuk duduk bersama-sama mencari jalan keluar. Kami berterima kasih karena keluarga besar ini membuka hati menerima kami di rumah ini.  Dan, dalam suasana perayaan hari raya Idul Kurban (Idul Adha 1433 H), ini mari kita buang keegoan kita masing-masing untuk sama-sama membangun Lewotana, Lamaholot,” kata Bupati Yosni di rumah Adat Terong dalam bahasa Lamaholot.

Warga Lewonara menerima kehadiran bupati dan wakil bupati dengan ritual adat baololon di tiga rumah adat, yakni Rumah Adat Koli Lewopula di Akoli, di rumah Raja Terong dan Rumah Adat Lewonara.  Sementara di Lewobunga, bupati dan wakil bupati diterima secara adat di Balai Desa Lewobunga.

Bupati dan Wakil Bupati Flotim, Yoseph Lagadoni Herin (Yosni) dan Valentinus Sama Tukan, baru diterima di Lewonara pasca keinginan pemerintah kabupaten setempat hendak meresmikan transmigrasi lokal (translok)  Riangbunga pada 25 Juli 2012. Kemudian berlanjut meletusnya perang tanding perebutan lahan di Riang Bunga, Senin (1/10/2012).

Dalam kasus perebutan lahan yang menelan lima korban  (satu tewas dan empat orang luka-luka), dan harta benda tersebut menyita perhatian Danrem dan Kapolda NTT, serta Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya yang memediasi gencatan senjata pada Senin (8/10/2012).

Ikut bersama Bupati dan Wakil Bupati Flotim  ke  Lewonara dan Lewobunga, yaitu Ketua Pengadilan Negeri Larantuka, I Wayan Sukeni, S.H; Kapolres Flotim, AKBP Wahyu Prihatmaka; Sekda Flotim, Anton Tonce Matutina; Sekretasis Tim Propinsi NTT, Petrus Kerong; Asisten I Asisten II Setda Flotim, Abdul Razak Jakra, S.H, dan Petrus Pemang Liku, S.Sos, MT, serta para pejabat eselon II Setda Flotim.

Sementara para tetua adat Koli Lewopula yang menerima bupati dan rombongan mulai dari rumah adat Akoli, Terong dan Lewonara, yakni  Bapa Laba, H Muhammad Kobu, Matheus Sarabity, Emi Ado, Ibrahim, Kepala Desa Terong, Hajon Ali Muhammad,  serta sejumlah tokoh adat lainnya. Di Lewobunga rombongan diterima Alex Benga, Petrus Taka dan para tetua adat setempat.

Di rumah adat Akoli, bupati dan wakil bupati mengikuti ritual adat baololon, setelah itu menuju rumah adat Terong dan Lewonara.  Di rumah adat Akoli, tidak ada kata-kata yang diungkapkan, hanya baololon semata. Sedangkan di rumah Adat Terong, Bupati Flotim Yosni Herin diberi kesempatan untuk menyampaikan niatnya.

Ia menyampaikn permohonan maafnya kepada keluarga besar Koli Lewopulo atas peristiwa yang  menimbulkan korban jiwa dan harta benda.

Atas penyampaian maaf itu, Bapa Laba, keturunan Raja Terong, hanya menyampaikan sebait kalimat agar pemerintah dapat mengambil hikmah dari kejadian tersebut.  Bupati Flotim, Yosni Herin, sangat senang menerima apa yang disampaikan Bapa Laba.  Yosni mengatakan, yang salah akan dibuang dan akan mengambil hikmah dari kejadian yang telah berlalu. “Kita belajar mencari hikmah di balik masalah ini untuk sama-sama membangun lewotana ini,” kata Yosni. Hal yang sama juga disampaikan bupati di Lewonara.

Kami Terima
Atas penyampaian permohonan maaf Bupati dan  Wakil Bupati Flotim, tokoh adat Lewobunga, Matheus Sarabity, menyampaikan maaf yang sama dari warga Koli Lewopulo.

“Bapa mio (Pemerintah, Red) sudah minta maaf, kami terima dan ikhlas,  hati dan mulut jalan seirama. Ini karena ulah pemerintah sehingga keadaan jadi seperti ini. Tapi konflik ini sudah terjadi dan kunjungan bapak bupati dan wakil bupati telah membuka pintu untuk kita saling memaafkan. Kami ingin suasana ini damai dan pemerintah segera menyelesaikan konflik ini secara bijak. Dua warga di desa ini adalah milik pemerintah karena itu pemerintah berada di tengah-tengah. Kami minta kepada pemerintah agar di wilayah konflik, terutama lahan yang sudah disemai untuk tanam tahun ini agar tidak dilakukan aktivitas di atasnya. Dan, aparat agar menjaga situasi tetap kondusif dan aman sehingga aktivitas pasar dan lainnya berjalan aman dan lancar, ” pinta Matheus.

Di Lewobunga, Bupati Flotim menyampaikan permohonan maaf pasca kejadian 25 Juli 2012 baru kembali menyinggahi Lewobunga. “Kami berterima kasih atas penerimaan yang baik ini dari warga Lewobunga. Kami berharap suasana ini terus dijaga hingga ke depan. Kita sama-sama mencari jalan terbaik untuk menyelesaikan masalah ini,” ujarnya.
Tetua adat Lewobunga, Alex Benga juga menyampaikan permohonan maaf dan menginginkan suasana damai. Ia juga menyampaikan sekelumit sejarah keberadaan tanah di Riangbunga. (iva)

‘Mendung’ di Wajah Yosni

BUPATI Flores Timur (Flotim), Yoseph Lagadoni Herin, yang disapa Yosni,  tidak bisa menahan rasa harunya saat dibukakan ‘pintu’ maaf oleh para tetua adat di Desa Lewobunga dan Lewonara.

Matanya memerah, seperti ia menahan ‘mendung’  yang hendak keluar dari bola matanya. Betapa tidak, momentum  penerimaan dirinya inilah yang ditunggu-tunggu masyarkat Flotim pasca konflik berdarah yang menewaskan satu orang dan empat orang luka-luka, serta korban harta benda lainnya.

Rabu, 24 Oktober 2012 pagi, sekitar pukul 07.30 Wita sebelum keluar dari rumah jabatan, doa dan ritual adat dilakukan oleh bupati dan rombongan. Semuanya berkeinginan agar suasana aman dan damai terus berlangsung di Bumi Lamaholot.

Di Kapal Cahaya Welang berbobot sekitar lima ton, bupati duduk bersama dua, tiga orang pimpinan SKPD, sedangkan wakil bupati asyik mengemudikan kapal sejak berangkat hingga pulang. Sementara pak sekda memilih duduk di depan kemudi bersama beberapa pimpinan SKPD. Masing-masing larut dalam pikirannya.

Setelah kurang lebih satu jam 30 menit atau sekitar pukul 09.30 Wita, ‘kapten tembak’ Kapal Cahaya Welang, Valentinus Sama Tukan, yang adalah Wakil Bupati Flotim meminggirkan kapal di Pelabuhan Terong.

Di Terong sudah menunggu pimpinan SKPD yang sudah ada sebelumnya di Adonara melakukan proses negosiasi, beberapa anak muda dari Terong dan sejumlah anggota BKO (Bawah Komando Operasi) Brimob. Penerimaan Pak Yosni tidak setegang penerimaan Gubernur NTT, Frans Lebu Raya, pada 8 Oktober 2012 lalu.

Bupati dan Wakil Bupati Flotim bersama rombongan dikawal langsung naik mobil yang sudah disiapkan berplat EB I dan EB 5. Mobil melaju kencang di jalan berlubang dari Pelabuhan Terong menuju Akoli berjarak sekitar  tiga kilometer.  Di Akoli rombongan masuk rumah adat dan diterima para tetua adat. Hanya diperbolehkan masuk, bupati dan wakil bupati, sekda dan para muspida, sementara rombongan lainnya di luar rumah adat.

Bupati dan wakil bupati kemudian diarahkan menuju koker atau kamar yang digunakan untuk ritual adat. Di kamar kecil itu, bupati, wakil bupati, dan tokoh adat secara sadar dan sungguh-sungguh melakukan prosesi baololon sebagai tanda keduanya diterima dengan hati  yang tulus dan ikhlas.

Segala keputusan, perkataan dan perbuatan yang keliru dan berakibat konflik diterima dan dimaafkan bersamaan dengan prosesi baololon. Usai prosesi baololon, tak ada kata yang keluar di rumah adat itu. Bupati dan rombongan langsung diarak ke rumah adat Raja Terong,  tidak jauh dari rumah adat Akoli.

Di rumah adat Raja Terong sudah menunggu para tetua adat. Kepala Desa Terong, Hajon Ali Muhmamad, selaku pemandu acara memberikan sapaan menyejukkan. “Geleta pelumut mete gere ro kae, tite hode taro sare (bupati dan rombongan sudah membawa kedamaian masuk ke kampung halaman, kita terima dengan baik, Red),” ungkap Hajon, sembari memberikan kesempatan kepada bupati untuk menyampaikan isi hati dan maksud kedatangannya.

Ibarat menunggu hujan di tengah panas matahari, Bupati Yosni yang didampingi Bapa Laba langsung menyambar permintaan Hajon dengan memohon izin berbicara.  Hari dan waktu yang dinantikan Yosni untuk bertemu dan berbicara di hadapan warga dua desa yang bertikai, begitu juga hari dan waktu yang dinantikan masyarakat Flotim atas kunjungan Yosni.

Saat membuka pembicaraan, Yosni langsung menyampaikan permohonan maaf.  “Kaan onak lere-lere goe dan pak wakil dalam jabatan kami sebagai bupati dan wakil bupati lenta ampo dan minta maaf. (Dengan hati yang tulus dan ikhlas saya dan pak wakil bupati minta maaf. Mungkin kame (kami) sebagai bupati dan wakil bupati salah mengambil keputusan dan mengeluarkan kata-kata yang menyinggung perasaan, kami minta maaf,” ujar Yosni ketika di rumah adat Terong, juga Lewonara.

Permohonan maaf yang disampaikan itu sempat  membuat suasana haru, bahkan di bola mata bupati tampak ‘mendung’ linang air mata yang nyaris turun,  namun tertahan oleh tiupan angin dan berlalu.

Permohonan maaf yang sama juga disampaikan bupati ketika  menyinggahi rumah adat Koli Lewopulo di Lewonara dan Kiwang Lewopuloklema di Lewobunga.
Atas permintaan maaf bupati itu, kedua tokoh adat di dua desa yang berkonflik itu juga menerima dan menyampaikan permohonan maaf  yang sama. Bupati dan wakil bupati hanya mendengar apa yang disampaikan dari masing-masing pihak dan akan menyelesaikannya konlik tersebut melalui tim yang dibentuk baik oleh pemerinetah propinsi maupun pemerintah kabupaten.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s