Mencatat Ulang Tokoh-Tokoh yang Merobohkan Surau

Saya suka membaca tetapi tidak banyak membaca. Sebagai seorang pembaca, saya termasuk golongan pemalas. Lebih suka membaca cerita-cerita pendek ketimbang novel yang lebih panjang. Barangkali karena ingatan saya tak sebaik kebanyakan orang. Sebab itu saya memilih cerita pendek untuk tugas pertama Kelas Anggit Narasoma ini. Setelah ingatan saya bekerja cukup keras, beberapa nama tokoh dari beberapa cerpen yang saya baca berbaris dalam kepala saya. Ajo Sidi di barisan terdepan. Mantap tanpa gelagap, saya mencari kliping yang saya dapat saat mengikuti pelatihan Gerakan Indonesia Membaca Sastra. Cerpen Robohnya Surau Kami ada di sana, karya Ali Akbar Navis.

Saat sepi, saya gemar berandai melakukan dialog dengan Tuhan yang entah wujudnya. Mungkin kegemaran ini yang membuat cerpen Robohnya Surau Kami menjadi satu dari sedikit hal yang paling saya ingat. Terdapat dialog dengan Tuhan dalam cerpen itu. Dialog yang membuat saya jatuh cinta pada pembacaan pertama. Saya jatuh cinta kepada A.A. Navis.

Dalam cerpen Robohnya Surau Kami, Navis bercerita perihal kematian tragis seorang Kakek penjaga surau (musholla)—garin. Siapa menyangka seorang Kakek yang tekun beribadah akan mati dengan menggorok lehernya sendiri menggunakan pisau asahannya? Navis mengisah­kannya dengan kata-kata amat satir dan cenderung ceplas-ceplos mencemooh kolotnya pikiran manusia.

Karena tugas ini adalah soal membaca penokohan, maka berikut ini adalah tokoh-tokoh yang terdapat dalam Robohnya Surau Kami—sesuai yang tertangkap dalam mata baca saya yang terbatas:

1

Aku. Tokoh “Aku” muncul sebagai pengisah. Penutur cerita yang digambarkan Navis sebagai seorang yang ingin tahu perkara orang lain. Perangainya ini dibuktikan dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukannya kepada Kakek perihal cerita Ajo Sidi. Alih-alih menghilangkan rasa penasaran, ia juga seorang pendengar yang baik. Ia tidak banyak memotong saat Kakek sedang menceritakan kesedihannya. Dari mulut tokoh “Aku” ini pembaca tahu bagaimana tragisnya kematian si Kakek. Selain suka ingin tahu urusan orang lain, tokoh “Aku” ini cukup perhatian. Saya mendapat perhatiannya. Apa yang dilakukannya setelah mendengar kabar kematian Kakek adalah sebuah perhatian khusus.

2

Ajo Sidi. Sungguh, ia bukan tokoh utama dalam cerita ini, tapi tanpa kehadiran Ajo Sidi, cerita ini tidak akan menarik. Tak sering muncul dalam cerita, tapi ia begitu menonjol. Saya kira, jika cerpen ini sebuah rumah, maka Ajo Sidi kuncinya. Diceritakan dengan jelas, melalui tokoh “Aku”, bahwa Ajo Sidi ialah seorang pembual ulung. Entah berasal dari mana bualannya, tapi orang-orang di kampungnya mudah saja percaya apa yang dikatakannya. Bualannya mirip sihir, sering menjadi kenyataan. Saya kira, ia gemar membual karena ia tak punya sesuatu untuk dikerjakan. Ajo Sidi seorang pemalas pada mulanya. Ia menjadi rajin bekerja setelah menemu­kan alasan mengapa ia harus bekerja, yakni kematian si Kakek.

3

Kakek. Surau bukan lagi tempat penting bagi masyarakat, tapi tidak bagi Kakek. Ia mengabdi­kan sisa usianya sebagai seorang garin (penjaga surau) yang setia. Seorang umat yang tekun beribadah kepada Tuhannya. Seorang umat yang pada akhirnya percaya bahwa ibadah saja tak cukup dalam hidup. Sebuah kepercayaan yang ia dapat dari bualan Ajo Sidi. Mendengar cerita Ajo Sidi, Kakek berubah menjadi orang tua yang gentar imannya, mudah dihasut, dan berpikiran pendek. Padahal, cerita Ajo Sidi yang didengarnya belum tentu benar adanya. Navis juga mengambarkan Kakek sebagai orang sibuk memikirkan dirinya sendiri. Tak peduli istri, tak peduli anak, tak peduli orang-orang lain. Ia hanya peduli kepada Tuhannya. Kepedulian yang membuatnya menggorok lehernya sendiri.

4

Haji Saleh. Dalam cerpen Robohnya Surau Kami, tokoh Haji Saleh tidaklah nyata. Ia merupakan tokoh rekaan Ajo Sidi yang sengaja diciptanya untuk membuali Kakek. Karakter Haji Saleh dibuat oleh Ajo Sidi. Dengan maksud menyindir Kakek, Ajo Sidi mengarang tokoh Haji Saleh semirip mungkin dengan Kakek. Diceritakan oleh Ajo Sidi bahwa Haji Saleh merupakan hamba yang taat beribadah kepada Tuhannya, persis Kakek. Di akhir bualannya, Ajo Sidi mengisahkan nasib Haji Saleh masuk neraka meski kuat ibadahnya—melalui dialog Haji Saleh dengan Tuhan di akhirat. Kisah tentang Haji Saleh inilah yang akhirnya menggentarkan iman Kakek. Membuatnya gelisah, pendek akal, lalu melakukan dosa besar: membunuh dirinya sendiri.

Itulah empat tokoh yang terdapat dalam cerpen Robohnya Surau Kami, di samping tokoh Tuhan yang entah mengapa saya begitu enggan (mungkin sungkan) mencatatnya. Keempat tokoh ini berhasil dibuat Navis dengan gaya tuturnya yang penuh sindir dan, saya rasa, dapat dibaca kapan saja—sepuluh tahun lalu, hari ini, bahkan sepuluh tahun kemudian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s