Balada Pohon Mangga

Tell me his name I want to know
The way he looks and where you go
I need to see his face, I need to understand
Why you and I came to an end*
 

Aku tahu apa yang terjadi. Pada mulanya, namaku yang selalu kausebut-sebut saat malam mulai tinggi tapi kantuk belum juga menggantung di matamu. Pada mulanya, potretku yang selalu kautatap lekat-lekat saat kerinduan bertamu ke dadamu sebab hujan deras sekali; jalanan macet sekali; atau pekerjaan banyak sekali mengurungku di kantor. Pada mulanya, akulah tujuan pulangmu setelah berpergian ke mana saja: ke taman kota, ke kampung halaman, ke tempat-tempat asing yang membuatmu penasaran. Aku tahu, seseorang telah membuatmu begitu penasaran. Siapa namanya?

Tell me again I want to hear
Who broke my faith in all these years
Who lays with you at night while I’m here all alone
Remembering when I was your own
 

Aku tahu apa yang terjadi. Hari itu, telingamu merapat sedikit demi sedikit sebab mereka mesti membagi dengar kalimatku dan kalimatnya. Hari itu, kedua bibirmu lebih sering mengatup untuk bibirku sebab mereka butuh istirahat; sebab ada bibir lain yang menunggunya mekar entah di mana. Hari itu, matamu mejadi bohlam remang sebab aliran listrik dari mataku melemah; sebab mereka telah menemukan pembangkit listrik yang lain: matanya. Hari itu, aku harus bersiap menjadi pohon mangga yang buahnya begitu menggoda tetangga untuk dipetik. Kamu telah dipetik dari dadaku yang kemarau. Siapa namanya?

I let you go, I let you fly
Why do I keep on asking why? I let you go
Now that I found a way to keep somehow
More than a broken vow
 

Aku tahu apa yang terjadi. Hari ini, aku menjadi murid yang berhenti bertanya mengapa kepada ibu guru sebab jawaban dari segalanya telah bermukim di hatiku; sebab jawaban tak melulu bisa mengubah sejarah; sebab jawaban tak akan mengembalikan mangga ke pohonnya. Hari ini, kau menjadi layang-layang dan dialah pengendali benangnya sebab keseimbanganku telah patah; sebab angin di atas kepalaku telah jadi angan dan tak bisa menyulap dirinya sendiri menjadi ingin. Hari ini, aku masih menjadi pohon mangga yang ingin sekali dengan tabah memeluk tubuhnya sendiri di tengah ladang kering sembari menunggu musafir datang dan berbaik hati menyiramiku seember air lalu bertanya: siapa namamu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s