Pahit

Wulan selalu dapat menikmati kopi hitamnya, tanpa gula. Baginya, gula hanya merusak aroma. Merusak rasa yang memiliki kodratnya sendiri. Membuatnya mirip palsu. Ia benci kepalsuan.
***
“Pelacur! Pergi kau dari sini!”
“Pelacur tidur dengan sembarang pria. Aku hanya tidur dengannya.”
“Tarno pergi ke kota sebelum kau hamil. Siapa yang percaya kau mengandung cucuku!”
Wulan segera keluar dari rumah orang tua Tarno. Ia tak kembali ke rumahnya. Ini bukan penolakannya yang pertama. Ia pergi mencari kotanya sendiri.
***
Wulan sedang menyesap kopinya saat Abdi, anaknya, pulang dari mengaji dan memberinya tanda tanya.
“Kenapa Ibu suka sekali kopi? Pahit, kan?”
“Ada yang lebih pahit.”
“Apa?”
“Nanti, kalau kau sudah cukup dewasa, kau akan tahu sendiri.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s