Hanya Biru

Biru. Tatapanku tertumbuk pada laut. Biru. Seluas pandang. Padanya kutemukan kemesraan antara langit dan laut yang tak lepas dan hilang di telan masa, selalu terlihat. Biru. Ya, hanya biru yang mengingatkanku kepadamu.

Sepanjang berbulan-bulan, wajahmu tergambarkan begitu jelas dalam ingatanku. Meski, dengan sengaja aku menghilang, menghindar dari lingkaranmu. Semua hal mengenaimu selalu saja tertinggal dan membekas begitu dalam bagiku. Memang bukanlah hal yang benar bila aku terus memaksakan kehendakku atasmu.

Aku lelah.
Mengamati setiap langkahmu aku lelah.
Merasakan cinta yang terus mendera jantung hatiku, aku lelah. Merasakan kehadiranmu di setiap mimpiku, aku lelah. Aku sungguh lelah. Lelah mencintaimu.

Mimpiku hancur karena terhalang bayangmu.
Bayangmu yang selalu hadir di langkah dan helaan nafasku. Bayangmu yang selalu mengganggu degupan jantungku. Bayangmu yang terus mengejar hari-hariku.

Merindukanmu menghancurkan kebahagiaanku.
Bahagia yang telah aku kemas agar kembali tersenyum setelah kepergianmu. Bahagiaku yang aku susun agar kembali tersenyum dengan teman-temanku.

Aku sungguh lelah.
Menantimu. Mengamatimu. Memimpikanmu. Merindukanmu. Sungguh aku lelah. Aku telah kehilangan berjuta rasaku karena menunggumu.

Aku lelah.
Aku teramat lelah.
Lelah menyadari bahwa cinta tak lagi tersimpan untukku. Lelah mengerti bahwa kau tak akan lagi ada di sampingku. Lelah menghapus semua kenangan indah bersamamu.

Sungguh aku lelah.
Sungguh teramat lelah.
Bantu aku melupakanmu.

Biru.

Tatapanku tertumbuk pada laut.

Biru.

Seluas pandang.

Padanya kutemukan kemesraan antara langit dan laut yang tak lepas dan hilang di telan masa, selalu terlihat.

Biru. Ya, hanya biru yang mengingatkanku kepadamu.

Sepanjang berbulan-bulan, wajahmu tergambarkan begitu jelas dalam ingatanku.

Meski, dengan sengaja aku menghilang. Menghindar. Dari lingkaranmu.

Semua hal mengenaimu selalu saja tertinggal dan membekas begitu dalam bagiku. Memang bukanlah hal yang benar bila aku terus memaksakan kehendakku atasmu.

 

Ingin kuucap tanya ini langsung di hadapanmu. “Maukah kamu benar-benar menjadi milikku?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s