CINTA DAN PENGHARGAAN

CINTA DAN PENGHARGAAN

“Anda bisa mengharagai sesuatu tanpa mencintainya, namun tidak mungkin mencintai tanpa menghargainya.”

Hukum “love and respect” merupakan kebenaran hakiki yang bisa menyelamatkan banyak pernikahan. Data departemen agama yang mengatakan bahwa tingkat perceraian di Indonesia masuk peringkat satu di Asia Pasifik memang sangat mengejutkan. Lihat saja statistik tahun 2010 yang
mencatat adanya 285.184 kasus perceraian. Ini berarti setiap dua menit ada satu pasang suami istri yang memutuskan untuk mengakhiri pernikahan. Alasan perceraiannya cukup klasik, mulai dari masalah ekonomi hingga hubungan gelap.

Seorang penasehat perkawinan yang bernama Norman Wright pernah mengatakan bahwa masalah utama perceraian bukanlah harta atau kesesuaian seksual, tetapi masalah cara pandang atau lensa kehidupan yang dipakainya. Saat mereka jatuh cinta, pada umumnya mereka menggunakan lensa positif- semua kelihatan baik adanya. Dalam tahap ini kekurangan pasangan tidak pernah diperhitungkan karena yang ada adalah kelebihan. Namun saat pernikahan memasuki tahun kelima, anak sudah mulai bertambah banyak, bentuk badan sudah mengembang ke kanan dan kedepan, pasangan mulai melihat kekurangan masing masing. Saat kekurangan menjadi pusat perhatian maka keretakan hubungan akan menjadi akibatnya. Norman Wright benar saat mengatakan “jika suami isteri bisa berganti lensa positif maka perceraian dapat dihindari dan rumah tangga bisa dipulihkan.

Rasul Petrus dalam suratnya pernah menasehati kita “Demikian juga kamu, hai suami- suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang.” Hidup bijaksana, berarti hidup dengan hikmat. Mereka yang menggunakan pedoman kebenaran Firman dalam menjalani pernikahan, maka pernikahan mereka juga akan dijaga dan diselamatkan oleh Firman Tuhan. Hikmat tidak akan melihat kelemahan sebagai alasan untuk perpisahan, namun kelemahan adalah titik awal untuk saling mendewasakan.

Dua kata hikmat yang bisa menjaga keutuhan pernikahan adalah ‘cinta dan hormat’. Demikianlah surat rasul Paulus kepada jemaat di Efesus ‘Bagaimanapun juga, bagi kamu masing- masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya.’ (Efesus 5:33). Kebutuhan utama seorang pria adalah penghargaan, sedangkan seorang wanita adalah cinta. Jika masih masing bisa memenuhi kebutuhan pasangannya maka pernikahan menjadi langgeng dan harmonis. Namun jika seorang pria tidak memberikan cintanya kepada sang isteri, jangan harap ia akan mendapatkan penghargaan-demikian sebaliknya. Keduanya menjadi lingkaran yang tidak bisa diputuskan. Cinta melahirkan penghargaan dan penghargaan melahirkan cinta. Untuk itu Love and Respect harus menjadi pegangan yang tidak bisa digantikan oleh apapun juga. Selamat mencoba.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s