Pada suatu lalu

Pada suatu lalu, aku adalah anak ibu yang mengimani kesendirian. Sendiri, cukup. Cukup sendiri. Aku hampir tak pernah mempertanyakan atap lain yang menaungi kepala bapakku saat ibuku sendirian. Tak pernah mengeluhkan matahari yang membuatku selalu mengantuk saat aku sendirian. Aku bukan kaum terkutuk.

Pada suatu kekinian, engkau datang. Bagai malaikat bersayap anomali, engkau bebuat baik tiada henti. Bagai bulir yang menetas, mengalir dari puncak gua, engkau meluruhkan keimananku yang sempat serupa batu. Melubanginya hingga dalam. Aku murtad dari kesendirian.

Pada suatu nanti, manakala namamu tak dapat berhenti dalam doa yang kurapal, aku berterima kasih kepada alam. Putaran semesta telah menempatkan aku dan engkau dalam dua pijakan di persimpangan. Aku tahu aku bisa merusak peta yang kaucipta dan memberimu kompas yang hanya menuju ke arahku, tetapi kemudian aku memutuskan mengimani waktu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s